Vianews.com, Medan, 21 September 2025. Nikel memiliki peran sangat penting bagi Indonesia sebagai produsen terbesar di dunia, terutama untuk bahan baku baterai kendaraan listrik (EV) dan industri baja tahan karat. Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan hilirisasi, dengan memproses bijih nikel menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dan nickel matte, bukan lagi hanya mengekspor bijih mentah. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pendapatan negara dan memastikan keberlanjutan sumber daya nikel. Nikel sebagai produksi sel baterai kendaran listrik ini akan membuat Indonesia menjadi negara pertama produsen sel baterai kendaraan listrik di Asia Tenggara yang menggunakan teknologi terbaru dari LG. Implikasinya, tenaga kerja muda Indonesia yang diserap pada proyek ini juga menjadi engineer kendaraan listrik pertama di Asia Tenggara. Tina menuturkan pula harapannya agar hilirisasi mampu menciptakan tenaga kerja yang diserap dengan layak dalam arti memiliki kemampuan tinggi sehingga pendapatannya lebih tinggi dan mampu membawa Indonesia keluar dari middle income trap. Hilirisasi Nikel telah menjadikan Indonesia sebagai pusat bisnis nikel global. Pada 2022: dengan menyimpan 21% dari total cadangan nikel dunia, Indonesia menambang 48% produksi bijih nikel dunia. Indonesia menyumbang 47,71% dari 3.060 kt output nikel primer dunia; Nickel Pig Iron (NPI) menyumbang 50% terhadap total produk nikel primer dunia; menghasilkan 1.145 kt, Indonesia menguasai 74% produksi NPI global; Indonesia menjadi penghasil utama Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) dengan memproduksi 89 kt; Indonesia juga memproduksi 226 kt nickel matte dan hampir 49% di antaranya bersumber dari konversi NPI ke nickel matte. MHP dan nickel matte adalah bahan baku (feedstock) nikel sulfat, material kunci baterai kendaraan listrik.
Tidak hanya mengolah slag nikel menjadi bahan yang berguna, sisa limbah pengolahan nikel dengan teknologi hidrometalurgi berupa tailing, atau sisa tanah padat, juga berusaha dijadikan tanah tutupan untuk revegetasi. Sebagian bekas galian tambang di Harita Nickel ditutup dengan sisa tanah merah yang tidak lagi mengandung nikel.

Salah satu cadangan nikel yang terbesar ada di pulau obi, Maluku Utara. Perusahaan yang mengelola nikel disini adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel). PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel) adalah perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Operasi perusahaan mencakup seluruh rantai nilai nikel:
- Pertambangan: 3 proyek beroperasi, 2 dalam tahap eksplorasi.
- Smelter (Rotary Kiln Electric Furnace – RKEF): 3 smelter dengan 16 lini produksi yang menghasilkan feronikel untuk industri baja nirkarat.
- Refinery (High-Pressure Acid Leaching – HPAL): 2 fasilitas pemurnian dengan 6 lini Produksi – menghasilkan Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt sulfat untuk baterai kendaraan listrik. Kawasan industri (dengan dermaga ekspor-impor), pembangkit listrik, pabrik kapur (quicklime), fasilitas daur ulang tailing.

Harita Nickel berperan dalam mendukung program hilirisasi industri nikel pemerintah Indonesia, meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam nikel. Perusahaan berkomitmen pada praktik operasional yang berkelanjutan dan telah berkomitmen untuk diaudit oleh The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA). Perusahaan berupaya melibatkan dan mengembangkan talenta lokal, ekonomi lokal dan juga meliputi sektor pendidikan. Pulau Obi merupakan pusat produksi nikel nasional yang mendukung hilirisasi dan transisi energi hijau Indonesia. Luas 2.542 km², 5 kecamatan, 34 desa, dengan 18.067 penduduk, Desa Kawasi: 1.281 penduduk

Foto suasana Malam di pelabuhan Kawasan OBI by CMTHIndonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia, terus meningkatkan produksinya. Data dari Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) menyebutkan bahwa produksi nasional pada 2025 diproyeksikan mencapai 298,5 juta metrik ton basah, naik dari 272 juta metrik ton pada tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ini berkontribusi pada kelebihan pasokan global, yang diperkirakan mencapai 156.000 metrik ton tahun ini. Vianews/CMTH






