ViaNews.com, Batubara, 11 Juli 2025.
Songket menjadi salah satu wastra atau kain khas Indonesia yang sudah ada sejak lama. Wajar saja, banyak orang yang masih menggeluti usaha yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Dibutuhkan ketrampilan khusus untuk menenun kain songket menggunakan alat tenun bukan mesin dengan corak dan motif khas Songket Batubara yang ditenun selama beberapa bulan lamanya.

Salah satu penenun songket Batubara, Ibu Ratna yang sudah belajar untuk menenun songket ketika umurnya menginjak 15 tahun. Dengan kegigihannya dalam mengajak ibu-ibu pada tahun 2005, ia sukses menambah jumlah penenun yang bekerja dengannya menjadi 70 orang. Cakupan pasar hasil produksi UMKM yang dimiliki Ratna juga bisa dikatakan sudah cukup luas. Songketnya pernah dikirimkan ke negara tetangga yaitu Malaysia tahun 2008 – 2019 sebanyak 20 kodi atau 400 lembar songket. Harga songket yang diproduksi Ratna bervariasi mulai dari Rp 400.000 hingga yang paling mahal pernah mencapai Rp 4.000.000.
Motif yang ada di kain songket tersebut paling banyak adalah pucuk rebung, pucuk betikam,pucuk caul, pucuk pandan. Dan motif ini disesuaikan dengan jenis warna kain songket serta permintaan dari pelanggan.

Program TJSL dari Inalum yang memberdayaan masyarakat diwilayah tersebut di bidang ekonomi sekalian juga untuk pelestarian budaya, seni dan sejarah di Kabupaten Batubara agar dapat terus dipelihara, berkembang dan lebih dikenal.Kita ketahui bersama kain songket Batubara adalah salah tenun satu ciri khas dan kebanggaan Kabupaten ini.

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang menjadikannya mitra binaan di tahun 2017. Inalum memberikan pinjaman modal usaha dan juga pelatihan marketing, untuk memajukan usaha dari Ratna
ViaNews/cmth






